05/04/2019
SUAMI DAN KERIDHOANNYA
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya....
+ "Pak Nas, saya sudah ga kuat dengan suami saya. Saya mau cerai saja..."
-: "Emangnya kenapa bu?"
+ "Ya suami saya udah ga ada kerjanya, ga kreatif, ga bisa jadi pemimpin untuk anak-anak. Nanti gimana anak-anak saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah capek-capek dia santai aja di rumah. "
-: "Oh gitu, cuma itu aja?"
+ "Sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yg paling utama."
-: "Oooh... iya... mau tahu pandangan saya ga bu?"
+ "Boleh pak Nas."
-: "Gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya ga bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah ga muat banyak, ga ada gantungan pakaiannya, ga ada lacinya, ga bisa dikunci, malah boros listrik..."
"Nah... itulah kalau kita pakai produk ga sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya ga akan puas."
+ "Mmm... trus apa hubungannya sama suami saya?"
-: "Ya... ibu berharap banget suami ibu jalankan fungsi yang sekunder, bahkan tersier barangkali. Tapi fungsi primernya ga dipakai."
+ "Saya ga berharap lebih koq pak Nas. Saya cuma pengen dia nafkahi keluarga dengan baik. Saya cuma pengen dia jadi pemimpin yang baik."
-: "Iya... itu mah cuma fungsi sampingan dari suami. Sayang atuh suami cuma diharapkan jadi begitu aja. Fungsi primernya yang paling utama malah ga ibu harapkan dan kejar."
+ "Mmm... emang apa fungsi primernya seorang suami?
-: "Fungsi primer seorang suami itu adalah untuk jadi tameng bagi dosa2 ibu di neraka."
"Saat ibu dapat ridho dari suami, maka... semua dosa2 ibu langsung dimaafkan sama Allah atas keridhoan suami ibu."
"Jadi, seorang suami duduk diem aja, itu sangat manfaat untuk ibu, tinggal ibu aja gunakan fungsinya dgn maksimal. Lakukan apapun yang terbaik yang ibu bisa lakukan untuk dapatkan ridho suami."
"Dalam sebuah hadits shohih disebutkan “ayyumam roatin maatat wa zaujuha ‘anha roodhin dakholatil jannah”"
"Yang artinya “Seorang istri meninggal dunia dan suaminya ridho sepenuhnya kepadanya, maka langsung masuk syurga”"
"Selebihnya, itu cuma fungsi2 sekunder dari suami. Kejar dulu yg utama ini."
"Suami ga kerja ya ga apa-apa... yang penting sudah jadi suami ibu. Jangan lepaskan, jangan dicerai. Biarkan dia jadi tameng saja bagi neraka."
"Kalau cerai, nanti ibu langsung berhadapan dengan api neraka. Dosa-dosa ibu ga ada yang menghapusnya, kecuali amalan ibu sangat spesial dan udah ga ada dosa sama sekali."
"Ibu tinggal cari ridhonya suami. Kalau memang ibu yang cari nafkah ya gpp. Semua harta yg ibu berikan ke anak dan rumah tangga itu semuanya terhitung sedekah yang sangat mulia. Jauh lebih mulia daripada sedekah ke anak yatim."
+ "Koq bisa lebih mulia dari anak yatim?"
-:" Ya karena anak yatim ini bukan bagian dari hidup ibu. Memberikannya adalah sedekah yang hukumnya sunnah. Sementara suami, sudah terikat dengan akad nikah, sudah menjadi bagian dari ibu."
"Silahkan dibagi sedekah untuk orang lain dengan sedekah untuk keluarga, tapi yang untuk keluarga, itu yang lebih utama.
+ "Tapi... kalau suami dzalim bagaimana? Bahkan KDRT ke keluarga?"
-: "Ya gapapa juga... tetap pertahankan. Karena semua perbuatan zalim akan kembali kepada yang melakukannya. Suami akan menanggung akibat KDRT yang dilakukannya. Siksaan Allah sangat pedih bagi suami yang tega menyakiti keluarganya."
"Sementara... Ibu fokus aja terus cari ridhonya suami."
"Pernah dengar? Istrinya Fir’aun masuk syurga? Apa kurangnya coba Fir’aun melakukan KDRT? Bukan hanya ke sang istri, Fir’aun bahkan tega membunuh bayi-bayi."
"Ke istrinya Asiyah, Fir’aun menyiksanya dan bahkan membunuhnya. Doa terakhir Asiyah diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an."
"Dia tidak meminta Fir’aun di adzab. Dia hanya meminta imbalan atas kesabarannya “ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam syurga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim” (66:11)"
+ "Ya Allah... pak Nas... trmksh atas diskusinya. Lalu apa yang harus saya lakukan?"
-: "Ibu mau ikuti games dari saya?"
+ "Apa itu Pak Nas?"
-: "Lakukan ini selama 7 hari saja... setiap malam, tanyakan ke suami, “abang, berapa persen ridhonya abang sama aku hari ini?”"
"Kalau dia jawab 95%... jangan tidur. Lakukan apapun untuk membuatnya menjawab sampai 100%. Mungkin dipijitin, mungkin dibuatkan makanan, teh, hidangkan buah, apapun... sampai dia mau jawab 100%. Baru setelah dia jawab “iya, aku ridho sama kamu 100%” nah silahkan tidur...."
"Lakukan selama 7 hari dan rasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang akan ibu dapatkan."
+ "Siap pak Nas"
-: "Semoga Allah muliakan ibu dan suami."
+ "Aaaamiin ya Rabb... trmksh pak Nas..."
*****
BARU 5 HARI BERLALU
+ "Pak Nas.... ya Allah... terima kasih banyak... saya ga tahu mau ngomong apa sama pak Nas... terima kasih sudah mengubah hidup saya... hanya Allah yang bisa memuliakan pak Nas dan keluarga..."
-: "Alhamdulillah... gimana, gamesnya dijalankan?"
+ "Iya pak Nas... dan saya rasakan saya lebih bahagia sekarang. Ini suami juga sudah mulai inisiatif cari kerjaan... walaupun belum dapat, saya sudah cukup bahagia pak Nas, dia mau bantuin saya nganter ke mana-mana .... ya Allah... enak banget pak Nas..."
-: "Alhamdulillah... "
+ "Saya mau terusin gamesnya, ga 7 hari... mau selama2nya boleh pak Nas...?"
-: "Buoleh banget... lakukan sampai salah satu dari ibu atau suami, dijemput malaikat dengan husnul Khotimah..."
+ "Huhuhu... makasiiiiih pak Naas..."
-: "Sama-sama."
Kenapa istri sering kecewa sama suami? Sebab ketika kita berbuat baik pada suami, dan kita juga mengharapkan imbalan dari suami, yaitu kebaikan juga untuk kita . "Aku udah melakukan yang terbaik buat kamu . Kamu juga lakukan yang terbaik donk buat aku."
Sadarkan kita? Sikap atau perkataan kita yang seperti itu sama saja menggantungkan harap pada suami, kita berbuat baik karena ingin mengharapkan balasan dari suami, bukan dari Allah .
Padahal Allah itu Maha Pencemburu, bisa jadi Allah menunjukkan kecemburuannya dengan sikap suami yang tidak kita harapkan supaya kita kembali kepada Allah.
Seharusnya "aku akan berbuat baik dan berbakti padamu karena Allah wahai suamiku" , bagaimana sikapmu terhadapku itu urusanmu dengan Allah. Tugasku hanya mencari ridho Allah melalui ridhomu. Aku yakin jika niatku karena Allah, maka Allah pun akan menggerakkan hatimu untuk berbuat baik terhadapku."
Warning : “Tulisan ini hanya akan cocok jika dibaca oleh istri dan dijalankan olehnya, bukan dipaksa-paksa sama suami untuk membaca dan melakukannya ☺️