04/02/2024
Bismillahirrahmanirrahim,
Bacalah puisi indah Kahlil Gibran tentang bagaimana orang tua terhadap anak. Jika kita membaca dan merenungkannya, niscaya kita tak akan menjadi orang tua yang egois dan keras kepala yang membuat jiwa-jiwa anak kita membenci dan menjauh dari kita.
------
Anak-Anakmu (Kahlil Gibran)
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau, tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu, tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh, tapi bukan jiwa mereka
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak p**a berada di masa lalu
Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya, sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.
------
Puisi indah yang lahir dari hati yang lembut, selalu bisa menginspirasi banyak orang. Begitu p**a puisi ini, selalu menginspirasi saya selaku orang tua. Supaya menjadi orang tua yang selalu mensupport anak, memahami mereka, memaafkan dan penuh cinta. Mashaallah..
Saya berbahagia menjadi orang tua buat anak-anak saya, apapun cobaannya, kami berdua berusaha menjadi orang tua terbaik. Yakin bahwa itu sudah menjadi takdir kami, untuk bersama dalam satu naungan yang bernama rumah... Alhamdulillah.
*BERUSAHALAH MENJADI ORANG TUA TERBAIK. WALAUPUN ENGKAU TIDAK TAHU SEBERAPA JAUH JATUHNYA ANAK PANAH, TETAPLAH SEKUAT TENAGA MELONTARKANNYA*
Bandung, Jumat, 3 Februari 2024
Penyulam Kata
Ijin tag teman-teman penulis,
Atin Supartini
Susi Herlina
Fitria Fiedzar Priandana