17/01/2018
“Resolusi & Perjalanan”
By. Rachel Stefanie Halim
Tidak berasa sudah memasuki minggu ke 3 di tahun 2018. Banyak dari kita selalu membuat resolusi di setiap pergantian tahun, menjadikannya semacam kredo, doa dan harapan sekaligus janji hati, bahkan banyak yang merasa wajar jika itu diumumkan di media sosial.
Sementara ada juga yang bilang lebih afdhol jika doa dibiarkan mengendap di lubuk hati? Ibarat ide, resolusi punya hak privacy.
Apa pun pemikiran kita tentang resolusi adalah sah-sah saja. Yang jadi ganjalan hanyalah, apakah resolusi itu benar-benar dijalankan? Dikejar? ditangkap? digeluti? Jadi komitmen ? taukah hanya berhenti dalam pemikiran saja? Mau itu pemikiran di hati atau pun pemikiran di kepala.
Kalau tidak ada catatan sebagai evaluasi, mana tahu kita sudah bergerak atau diam di tempat? Mana tahu kita maju atau mundur?
Resolusi itu ibarat sebuah perjalanan. Halangan bahkan benturan keras adalah bagian dari perjalanan. Dari batu kerikil sampai bongkahan batu besar, hujan gerimis sampai badai petir, ban kempes sampai ban meletus, semuanya mungkin terjadi dalam sebuah perjalanan. Apa pun yang terjadi, seharusnya dan selayaknya janganlah kita menghentikan perjalanan. Kalau pun berhenti, itu hanyalah untuk sekedar membetulkan sesuatu yang memang perlu diperbaiki, membenahi apa yang perlu dibenahi, mengisi kembali bahan bakar untuk akhirnya kembali melanjutkan perjalanan, sampai kita benar-benar tiba di tujuan dengan selamat.
Menurut survei yang dilakukan oleh majalah Time, ada 10 resolusi tahun baru paling populer :
1. Menurunkan berat badan supaya lebih sehat
2. Berhenti merokok
3. Belajar hal - hal baru
4. Makan makanan yang sehat
5. Bebas dari hutang dan bisa menabung
6. Meluangkan waktu lebih banyak dengan keluarga
7. Traveling ke tempat-tempat baru
8. Bebas dari stres
9. Membaktikan diri untuk kegiatan sosial
10. Mengurangi minum minuman keras
--> lanjut di comment