Rao-Rao Kampuang Tacinto

Rao-Rao Kampuang Tacinto Rao-Rao, Ranah Katititan di Ujuang Tunjuak ( RA KA DI TU ) Mari basamo-samo mambangun Nagari

Ayo datang dan saksikan beramai ramai
22/06/2024

Ayo datang dan saksikan beramai ramai

17/05/2023
08/04/2022

InsyaAllah puasa ke 7

Hebatnya Urang Minang Tempo DoeloeTrio Minang penakluk Pasar SenenSeorang pemuda Minang tamatan kelas 2 sekolah rakyat p...
11/05/2020

Hebatnya Urang Minang Tempo Doeloe

Trio Minang penakluk Pasar Senen

Seorang pemuda Minang tamatan kelas 2 sekolah rakyat pergi merantau ke Betawi di tahun 1921. Namanya Djohan yang kemungkinan berasal dari Sawahlunto. Waktu itu saudagar2 bumiputra di Padang sudah mulai sering berbelanja ke Betawi.

Sudah sejak dekade sebelumnya jalur pelayaran Padang – Batavia semakin lancar, yang dilayani oleh perusahaan kapal pemerintah (misalnya, tahun 1927 kapal api Ophir melayani rute Betawi – Padang secara rutin yang dapat ditempuh dalam satu setengah hari (lih: Pandji Pestaka, No. 61, Th. V, 2 Augustus 1927: 1048 Kroniek).

Djohan nekat pergi ke ibukota Hindia Belanda itu membawa tulang delapan kerat. Niatnya hendak bekerja jadi pegawai negeri atau swasta. Akan tetapi sesampai di Betawi ia melihat dunia perdagangan yang ramai.

Maka Djohan pun beralih pikiran. Menjadi pegawai hanya tamat kelas 2 sekolah rendah tak akan dapat mengubah nasib, pikiranya. Kini ia ingin jadi pedagang. Tapi apa daya modal tak ada. Djohan pun memutar otak. Didekatinya seorang pedagang Arab, lalu dimintanya beberapa helai barang dagangannya, kemudian dikembangnya lapak di tepi jalan. Begitulah Djohan memulai usaha dagangnya secara kecil-kecilan. Lama-lama anak muda yang hemat dan berkemauan keras itu dapat menyimpan uang sedikit demi sedikit. Akhirnya ia berhasil mengumpulkan modal sendiri, lalu ia melepaskan diri dari induk semang Arabnya. Kini Djohan membeli sendiri barang-barang dagangannya secara kontan. Dengan demikian harganya jadi lebih murah, dan dengan demikian ia pun dapat menjual dagangannya dengan harga yang lebih murah p**a.

Lama-kelamaan Djohan berhasil menyewa sebuah toko di Pasar Senen. Akan tetapi keberhasilan yang sudah diraihnya tidak menjadikan ia cepat puas. Dengan uang tabungannya, kemudian ia berhasil membeli toko itu. Kini ia sudah memiliki toko sendiri. Dagangannya pun makin laris manis. Itu tak lain karena layanannya yang ramah tamah kepada para pembeli. Lama kelamaan tokonya bertambah luas, hingga mencapai enam pintu (meminjam istilah pedagang Minang di Tanah Abang sekarang).

Djohan kini sudah jadi pedagang kaya. Maka disuruhnya saudaranya, Djohor namanya, menyusulnya ke Betawi. Waktu itu Djohor masih bersekolah di Sawahlunto. Djohor pun datang ke Betawi membantu Djohan. Maka tokonya yang besar itu diberi nama “Handelsvereeniging Djohan-Djohor” (Perusahaan Dagang Djohan-Djohor). Toko Djohan-Djohor terus berkembang. Kemudian dua bersaudara itu mengajak seorang saudagar Minang lainnya berkongsi, namanya Ajoeb Rais.

Latar belakang Ajoeb Rais cukup jelas dipaparkan dalam Memoir Mohammad Hatta (Jakarta: Tintamas Indonesia, 1979). Ia, yang dipanggil oleh Hatta sebagai ‘Ma’ Etek Ajoeb’, adalah ‘penjamin’ hidup Wakil Presiden pertama Indonesia itu selama beliau bersekolah di Batavia (kini: Jakarta), sejak kedatangannya di ibukota Hindia Belanda itu sekitar Juni 1919 sampai keberangkatannya ke Padang pada bulan Juni 1921 untuk kemudian terus ke Belanda pada bulan Agustus pada tahun yang sama, sampai Hatta kembali lagi ke Batavia pada bulan Agustus 1932 (lihat fotonya dalam Memoir B**g Hatta, 1979:63). Bahkan setelah itu Hatta pergi ke Jepang dengan Ajoeb Rais untuk mengadakan perjanjian dagang dengan pengusaha2 Jepang.

Waktu Hatta sampai di Batavia, Ajoeb Rais sudah terkenal juga sebagai seorang saudagar besar,tapi hidupnya tetap sederhana. Ia dan istrinya Daidah (yang dipanggil ‘Mintuo’ oleh Hatta) dan seorang anak perempuannya yang bernama Nelly tinggal sebuah rumah di Jalan Jakarta di bilangan Kota (kini Jakarta Pusat). B**g Hatta menyebut Ajoeb Rais sebagai pamannya. Memang ia juga berasal dari Bukittinggi tapi tidak dijelaskan bagaimana persisnya hubungan kekeluargaan mereka.

Diceritakan oleh Hatta dalam Memoir-nya (hlm. 61-62): Ajoeb Rais meninggalkan Bukittinggi, sebentar tinggal di Padang, sebelum kemudian pergi ke Betawi. Mula-mula ia bekerja sebagai jurutulis pada seorang bangsa Jerman, yang berdagang berbagai rupa. Untuk mencapai kemajuan ia belajar mengetik 10 jari. Dalam waktu yang singkat sekali ia memperoleh diploma. Hal itu menarik perhatian induk semang Jermannya itu. Akhirnya ia diberi pekerjaan yang lebih banyak yang selalu dikerjakannya dengan rajin dan bersemangat.

Ajoeb akhirnya mendapat warisan uang dari induk semangnya itu sebesar f 10.000 ketika induk semangnya itu pensiun dari dunia dagang. Ajoeb juga dijadikan anak angkat oleh induk semangnya itu karena induk semangnya itu tidak punya anak. Karena tangan dinginnya, akhirnya Ajoeb Rais berhasil dalam dunia dagang. Waktu itu ia menjalankan perdagangannya lebih banyak dengan cara spekulasi. Ia ambil sejumlah barang dari orang dalam partai besar, lalu tiga bulan kemudian harga barang itu dibayarkan. Kalau harga-harga naik, maka dapatlah ia untung yang lumayan besar. Tapi jika sebaliknya yang terjadi, alamat bangkrut akan didapat. Cara dagang seperti itu beresiko besar akan jatuh pailit. Oleh sebab itu, setelah berhasil mengumpulkan uang sebanyak f 500.000, Ajoeb Rais pergi naik haji ke Mekah. Setelah p**ang dari Tanah Suci, ia beralih ke usaha lain. Setelah itulah tampaknya ia bergabung dengan Firma Johan Johor.

Hatta mencatat dalam Memoir-nya (hlm. 255-57) bahwa ia disambut oleh Ma’ Etek Ajoeb Rais ketika sampai lagi di tanah air pada tahun 1932. Ajoeb ikut ke Pelabuhan Tanjung Priok untuk melihat proses pemeriksaan buku-bukunya yang berpeti-peti oleh duane pelabuhan. Buku-buku itu dikirim dari Belanda dan sebelum diambil oleh pemiliknya di Batavia, harus diperiksa terlebih dahulu. Hatta menyebutkan bundelan Majalah Indonesia Merdeka ditahan oleh duane karena dianggap bacaan berbahaya. Hatta mengatakan bahwa semua bukunya itu kemudian disimpan di rumah Ma’ Etek Ajoeb Rais di Defensielijn Van den Bosch yang sebelumnya merupakan sebuah hotel. Letaknya tepat pada Jalan Sawah Besar menuju Lapangan Terbang Kemayoran (belakangan disebut daerah B**gur Besar).

Pada bulan Februari 1933 Hatta diajak oleh Ajoeb Rais pergi ke Jepang untuk urusan bisnis dagang pamannya itu. Mereka berangkat dari Batavia via Singapura dengan menumpang kapal Johor Maru. Perjalanan Hatta dan Ajoeb Rais ke Jepang ditemani oleh seorang rekan dagangnya orang Jepang yang juga punya kantor perusahaan di Batavia, yang dipanggilnya Tuan Ando. Ando, Hatta dan Ma’ Eteknya tinggal di Singapura selama 5 hari. Keberangkatan Hatta tak lepas dari intaian spion Belanda. Di Singapura Hatta bertemu dengan beberapa orang Minangkabau, termasuk salah satu pemilik warung Padang yang selalu menggratiskan ia makan di restorannya, dan seorang saudagar Minang pemilik Toko Padang di Batavia bernama Haji Usman yang terpaksa lari ke Singapura karena jatuh bangkrut dan dikejar-kejar oleh orang-orang yang menagih utang kepadanya. Perjalanan mereka bertiga di Jepang diceritakan pada halaman 293-308 dalam Memoir B**g Hatta. Selama berada di Jepang, Hatta dan pamannya itu tinggal di Hotel Koshien, sebuah hotel yang terbilang bagus yang terletak antara Kobe dan Osaka. Ajoeb Rais yang diasisteni oleh Hatta dan Ando mengadakan perjanjian dagang dengan beberapa pengusaha Jepang dan melihat beberapa pabrik di Kobe, Osaka dan Tokyo. Namun, kunjungan Hatta itu diketahui oleh insan pers di Jepang, sehingga banyak wartawan yang mengerubuti “Gandhi of Java” itu, demikian pers Jepang menyebutnya, begitu kapal Johor Maru yang ditumpangi Hatta merapat di Pelabuhan Kobe sekitar Maret 1933.

Pada Bulan Maret 1942 Hatta sempat bertemu dengan Johor yang dipanggilnya ‘Etek’ di Hotel Des Indes di Jakarta. Waktu itu Hatta dijemput dari Sukabumi untuk bicara dengan para pentinggi militer Jepang di Batavia. Johor sendiri menyebut Hatta sebagai ‘[A]nak Gadang’, maksudnya jelas ‘Anak yang kini menjadi orang besar’ (Hatta 1979:396). Dalam kesempatan itu Johor menyediakan pakaian baru yang bagus untuk Hatta melalui toko jahitnya Nam Mie di Jalan Antara. Maksudnya, supaya Hatta kelihatan necis dan gagah ketika berhadapan nanti dengan para pembesar militer Jepang. Hatta sempat mampir ke Firma Johan Johor di Senen mengisi waktu luangnya di Jakarta sebelum berunding dengan para pembesar Jepang (Gunseiken dan Sumobuco). Pakaian yang dibuatkan oleh penjahitNam Mie pesanan Etek Johor sangat cocok di tubuh B**g Hatta.

Membaca Memoir Hatta, kita mendapat kesan betapa dekatnya hubungan tiga serangkai pemilik Firma Johan Johor dengan B**g Hatta, khususnya Ajoeb Rais. Ajoeb bahkan menyediakan biaya sekolah untuk Hatta selama ia belajar di Prins Hendrik School di Batavia. Terkesan pada waktu ikatan emosional sesama perantau Minang di Jakarta sangat kuat.

Perusahaan dagang Djohan-Djohor terus berkembang dan mempunyai cabang di Pekalongan, Semarang, Surabaya, Bandung, dan Medan. Sumber tulisan ini mencatat:“Semendjak itoe keadaan di Pasar Senen jadi beroebah benar. Dahoeloe jang ada disana hanja toko orang Tionghoa semata-mata, tetapi semendjak toko Djohan-Djohor berdiri, toko-toko orang Boemipoetera jang lain didirikan poela. Dan sekarang toko-toko kain orang Boemipoetera soedah sebanding banjaknja dengan toko-toko orang Tionghoa”.

Tampaknya tiga anak muda Minang bersaudara ini adalah kompetitor pedagang Tionghoa pertama di Pasar Senen. Mereka termasuk generasi perantau Minang awal yang sukses mengembangkan usaha dagangnya di Betawi (Jakarta). Seperti sering diekspresikan dalam cerita-cerita lisan Minangkabau, Djohan tiga bersaudara betul-betul menggambarkan dunia perantauan orang Minang: pergi meninggalkan kampuang diiringi sebak sudut mata bunda kandung, dan tanpa modal apapun, untuk kemudian p**ang membawa tuah. Kuncinya adalah sifat rendah hati, hemat, dan s**a bekerja keras. Sumber tulisan ini menulis:“Kadang-kadang […] tampak kedoea saudara itoe melihat-lihat pekerdjaan pegawainja. Air moekanja tenang dan ramah, sedikitpoen tidak tampak ketinggiannja. Akan tetapi dibalik air moeka jang tenang itoe tersemboenji kekerasan hati jang sebagai wadja”. Hal itu betul belaka kiranya, sebagaimana dapat dilihat dan dikesan dalam foto ini: yang duduk Djohan, dan yang berdiri Ajoeb Rais (kiri) dan Djohor (kanan).

Kisah sukses Handelsvereeniging Djohan-Djohor-Ajoeb menambah lagi pengetahuan kita tentang sejarah perantauan orang Minangkabau di awal abad ke-20, betapa hebatnya orang minang sejak dulu,bukan hanya sebagai perintis kemerdekaan tapi khususnya mengenai perintis keberadaan para pedagang Minangkabau di Pasar Senen, Jakarta.

Sumber DR.Surya Suryadi
ditulis kembali oleh Herlina Hasan Basri

Aku Bangga Menjadi Anak Minangkabau

24/01/2020

PENGHAKIMAN YANG DZOLIM
Jangan sampai salah menilai orang lain
Di dalam kereta ekonomi non-AC yg lumayan panas. Seorang eksekutif muda. dengan jas elegan berdiri di disana. Sesak2an dengan penumpang lain.
Sesaat kemudian. ia membuka tablet Androidnya. Lebih besar tentu dibanding smartphone umumnya.
Ia memang sedang ada chat penting dengan para donatur. Chat tentang dana untuk membantu para korban kebanjiran.
Semua penumpang menoleh padanya atau meliriknya. Apa batin mereka?
👉 Seorang nenek2 membatin. 'Orang muda sekarang. kaya sedikit langsung pamer. Naik Ekonomi. pamer2an.'
👉 Seorang emak2 membatin. 'Mudah2an suami saya ga senorak dia. Norak di kelas Ekonomi bukan hal terpuji.'
👉 Seorang gadis ABG membatin. 'Keren sih keren. tapi ga banget deh sama gayanya. Kenapa ga naik AC kalau mau pamer begituan?'
👉 Seorang pengusaha membatin. 'Sepertinya dia baru kenal 'kaya'. Atau dapat warisan. andai dia merasakan jerih pahit kehidupan; barang tentu tidak akan pamer barang itu di kelas Ekonomi. Kenapa ga naik AC sih?'
👉 Seorang pemuka agama melirik. 'Andai dia belajar ilmu agama. tentu tidak sesombong itu. pamer!'
👉 Seorang pelajar SMA membatin. 'Gue tau lo kaya. Tapi plis deh. lo ga perlu pamer gitu kalle' ke gua. Gua tuh ga butuh style elo. Kalo lo emang pengen diakuin. lo bisa out dari sini. terus naik kereta AC.. ill feel gue.'
👉 Seorang tunawisma membatin. 'Orang ini terlalu sombong. ingin pamer di depan rakyat kecil.'
Si eksekutif menyimpan kembali tabletnya di tas. Ia membatin. Alhamdulillah.... akhirnya para donatur bersedia membantu. Alhamdulillah... ini kabar baik sekali. Lalu. ia sempatkan melihat kantong bajunya. Ada secarik tiket kereta ekonomi.
Ia membatin 'Tadi sempat tukar karcis dengan seorang nenek tua yang mau naik kereta sesak ini. Tidak tega saya. Biarlah dia yang naik kereta AC itu. Mudah-mudahan manfaat.:
Sahabat..
Begitu berbahaya nya penghakiman. Sebuah kebaikan. tindakan kasih. bisa berubah total menjadi kejahatan hanya karna persepsi kita.
Jaga persepsi kita. semua tak perlu kita nilai seperti penampakannya.

09/08/2019

YA ALLAH MALU SEKALI MENDENGAR KISAH INI.

Seorang pedagang hewan qurban berkisah tentang pengalamannya: Seorang ibu datang memperhatikan dagangan saya. Dilihat dari penampilannya sepertinya tidak akan mampu membeli. Namun tetap saya coba hampiri dan menawarkan kepadanya, “Silahkan bu…”, lantas ibu itu menunjuk salah satu kambing termurah sambil bertanya,”kalau yang itu berapa Pak?”.

“Yang itu1.500. 000 bu,” jawab saya. “Harga pasnya berapa?”, Tanya kembali si Ibuu. 1.300.000 deh, harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah…… . “Tapi, uang saya hanya 1.200.000 boleh pak?”, pintanya. Waduh, saya bingung, karena itu harga modalnya, akhirnya saya berembug dengan teman sampai akhirnya diputuskan diberikan saja dengan harga itu kepada ibu tersebut.

Sayapun mengantar hewan qurban tersebut sampai kerumahnya, begitu tiba dirumahnya, “Astaghfirullah……, Allahu Akbar…, terasa menggigil seluruh badan karena melihat keadaan rumah ibu itu.

Rupanya ibu itu hanya tinggal bertiga, dengan ibunya dan puteranya dirumah gubug berlantai tanah tersebut. Saya tidak melihat tempat tidur kasur, kursi ruang tamu, apalagi perabot mewah atau barang-barang elektronik,. Yang terlihat hanya dipan kayu beralaskan tikar dan bantal lusuh.

Diatas dipan, tertidur seorang nenek tua kurus. “Mak…..bangun mak, nih lihat saya bawa apa?”, kata ibu itu pada nenek yg sedang rebahan sampai akhirnya terbangun. “Mak, saya sudah belikan emak kambing buat qurban, nanti kita antar ke Masjid ya mak….”, kata ibu itu dengan penuh kegembiraan.

Si nenek sangat terkaget meski nampak bahagia, sambil mengelus-elus kambing, nenek itu berucap, “Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga kalau emak mau berqurban”.

“Nih Pak, uangnya, maaf ya kalau saya nawarnya kemurahan, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk beli kambing yang akan diniatkan buat qurban atas nama ibu saya….”, kata ibu itu

Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa , “Ya Allah…, Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan Imannya begitu luar biasa”.

“Pak, ini ongkos kendaraannya…”, panggil ibu itu,”sudah bu, biar ongkos kendaraanya saya yang bayar’, kata saya.

Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan dengan hambaNya yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya…….

Untuk mulia ternyata tidak perlu harta berlimpah, jabatan tinggi apalagi kekuasaan, kita bisa belajar keikhlasan dari ibu itu untuk menggapai kemuliaan hidup. Berapa banyak diantara kita yang diberi kecukupan penghasilan, namun masih saja ada kengganan untuk berkurban, padahal bisa jadi harga handphone, jam tangan, tas, ataupun aksesoris yg menempel di tubuh kita harganya jauh lebih mahal dibandingkan seekor hewan qurban. Namun selalu kita sembunyi dibalik kata tidak mampu atau tidak dianggarkan.

====Semoga bermanfaat ======

07/08/2019

*"Anakku nggak jadi Dokter...*

(Kisah nyata dari *dr. Armanto Sidohutomo* tentang anaknya.
Dr. Armanto adalah anak pertama dari dr. Soendoko Sidohutomo Sp. PA. (pernah menjadi PUREK II UNAIR).
Keempat anak dokter Soendoko semua juga berprofesi sebagai dokter, istri dr. Soedoko yaitu Prof. dr. Roemwerdiniadi.)

*Cuplikan kisahnya:*

Teringat Pembicaraan dengan Putraku ke-2, *IAN*, saat naik kelas 2 SMA, 6 tahun yang lalu, saat rutin makan malam bersama:

*IAN* : _"Bapak, maaf saya ijin, kalau boleh mau keluar dari SMA 5 setelah kenaikan kelas ..._

*BAPAK* : (makanan di mulut langsung hambar, datar dan tawar, Gak ketelan ...)
_"Maksudmu ???_

*IAN* : _"Saya ingin sekolah di Madinah, saya ingin jadi Ustadz _

*BAPAK* : (Yang dimulut langsung ku telan ... minum buanyaak, sampek keselek)
_"Kamu jadi Ustadz siapa yang ngajak ??_
(Nada Interogasi )

*IAN* : _"Gak ada, saya sendiri yang pengen ..._

*BAPAK* : _"Kamu gak pengen jadi dokter ??? Kan kamu pinter, lembut, baik budi bahasamu, ramah sama orang dan bisa banget melayani orang lain seperti Masmu ..._

*IAN* : (Sambil senyum)
_"Kan gak sama bapak ..._
_"Seperti Bapak bilang, semua manusia spesifik dan Istimewa ..._

*BAPAK* : (wuih, mak jleb, omonganku dipakai meng-counter aku ... cerdas ! Tapi menjengkelkan)
_"Kamu kalau jadi dokter akan sangat berguna dan bermanfaat menyembuhkan banyak orang pastinya ..._

*IAN* : _"Dokter menyembuhkan badan, Ustadz menyembuhkan Hati kan Bapak, Insya Allah bermanfaat ..._

*BAPAK* : (Praaaaang, berkeping2 hatiku ... Air mata mulai menetes, aku sedih banget anakku gak mau jadi dokter)
_"Sekolah di Arab itu sulit lho ..., bahasa, budaya beda dan puanasnyaaaaa luar biasa ..._

*IAN* : _"Bapak yang ngajarin, GAK ADA YANG GAK BISA KALAU NIAT MENGGELORA !_

*BAPAK* :
_"Nanti kalau jadi Ustadz, penghasilanmu berapaaaa ?_ _"Sedikit sekali !!!_ (Nada meninggi) _"Istri dan anakmu gimana membiayainya ???_

*IAN* : _"Bukannya Bapak yang mengajari hidup mandiri, se-CUKUPnya, Se-BUTUHnya, dan bahagia tidak ada korelasi dengan harta ???_

*BAPAK* : (Aku nangis pelan)
_"Apalagi alasan Bapak supaya kamu jadi dokter ya IAN ?_

*IAN* : _"Ikhlaskan IAN jadi diri IAN sendiri ya pak ..., ini pilihan hidup IAN ..._

*BAPAK* : (Nangis...)
_"Bapak mau kamu tetap di SMA 5 sampai lulus, perjanjiannya gini aja, baru sesudah lulus SMA dengan nilai baik, kamu berhak menentukan kemanapun kamu mau ..._
(Sudah punya pilihan lain, tapi berharap bisa merubah niat)

*IAN* : (perlahan memeluk dan mencium pipiku sambil ikut menangis)
_"Asal Bapak ikhlas dengan pilihan IAN, Saya tetap sekolah SMA 5 dan lulus dengan baik, matur nuwun, pangestunya ..."_

*******

Saat ini ... IAN baru p**ang dari Madinah, besar, tegap, gagah, hafal 27 Juz, sudah beberapa kali jadi Imam di banyak masjid, mengisi Khutbah Jumat, Taraweh, Buka Bersama dll, dan tiap kali aku melihat IAN jadi Imam, air mataku selalu tak terbendung lagi.

IAN dengan segala kelebihan dan kekurangannya menyadarkanku akan kurangnya pengetahuan dan amalan agamaku, Allah mengutusnya untuk mengingatkanku ...

*******
Saudaraku...

Terkadang sebagai orang tua *kita menilai kesuksesan anak hanya dilihat dari faktor materi duniawi ...*

Sebanyak apa *GELAR berderet*
Sebanyak apa *HARTA dimiliki* ...
Sebesar apa *RUMAH yang dimiliki* ...
Secanggih apa *MOBIL yang dimiliki*
Dst ...

*Tapi kita lalai bahwa itu semua tidaklah akan dibawa mati ...*

Seorang anak yang mau mendoakan orang tuanya dengan ikhlas, berbakti kepada mereka, yang mengagungkan syiar² agamaNya, walaupun di dunia tidak memiliki apa², namun dia akan menjadi aset terbesar bagi orang tuanya kelak di akhirat.

_wal âkhiratu khayrun wa abqa_, (dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal ...)

Semoga menjadi renungan kita bersama ...

*******

Selamat mendidik anak2 saudaraku

22/07/2019

MAGNET MENARIK REZEKI

Sederhana untuk dilakukan/amalkan sehari-hari, semoga bisa membantu membuka pintu rezeki.

1. Letakkanlah sedikit makanan kucing dan semangkuk air di luar rumah untuk kucing-kucing yang datang.

2. Sisihkanlah sedikit dari hasil gaji atau upah jerih payahmu, untuk di sumbangkan kepada anak yatim dan orang miskin.

3. Senantiasa sediakan uang kecil di dalam dompet untuk diberikan kepada yang memerlukan.

4. Letakkanlah di kamarmu sebuah kotak. Setiap kali kamu merasa melakukan dosa, masukkan uang kecil kedalamnya. Genap 1 bulan, buka kotak itu dan sedekahkan uang tersebut.

5. Jika kamu hadir dalam suatu acara (keluarga, kerabat atau sahabat), belilah 1 atau 2 kotak air mineral, niatkan untuk disedekahkan kepada orang yang memerlukannya (orang tua, orang sakit, anak-anak dan lain-lain).

6. Jika kamu membeli barang dari pedagang-pedagang kecil kemudian kemudian sang pedagang ingin mengembalikan uang kembalian atau uang recehan, biarkan uang recehan itu untuknya (disedekahkan atau dihadiahkan).

7. Belilah Mushaf (Al-Qur'an), letakkan di salah satu masjid. Bayangkan berapa pahala yang akan kamu dapat dari setiap huruf dari mereka yang membacanya.

8. Berikanlah perasaan gembira kepada setiap orang, khususnya kepada mereka-mereka yang sedang ditimpa kesedihan, dengan senyuman dan ucapan doamu yg tulus.

9. Lemparkanlah senyuman kepada orang yang kamu temui, berilah salam kepada orang yang duduk dan berbicaralah dengan ucapan yang baik karena semuanya adalah sedekah.

10. Jangan biarkan kamu tertidur, melainkan telah kamu ampuni setiap orang yang telah berbuat jahat kepadamu dari menghinamu, menyebarkan fitnah dan menzalimimu.

11. Setting pada handphone kamu, tanda peringatan pada waktu-waktu tertentu untuk kamu membaca surah Al-Fatihah atau Al-Ikhlas yang di hadiahkan kepada kedua orangtua kamu, baik yang masih hidup atau telah meninggal dunia.

12. Silahkan kirimkan tips² ini ke semua teman atau sanak family kamu. Barangkali ada yang mau mengamalkannya.
Semoga kita pun akan diberi pahala karenanya.

Selamat bersedekah..
Semoga kita dilimpahkan rezeki yang banyak dan berkah dari ALLAH SWT.. Aamiin...

Semoga bermanfaat

Address

Rao-Rao
Batusangkar
27561

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rao-Rao Kampuang Tacinto posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share