14/05/2024
LINGERIE ISTRIKU (6)
Sebelum baca subscribe dulu yuk kak.
Di tepi kolam renang Raisa duduk sambil memainkan air di dalam kolam. Menyadari kedatanganku ia pun langsung berdiri menghadapku. Beberapa detik sempat hening, aku dan dia hanya saling pandang dalam diam, namun debaran di dada ini tak bisa ku elakkan, terasa semakin kencang.
"Ngapain disini? Udaranya dingin. Ayo masuk!" ujarku masih berdiri di tempat.
Gadis itu mengangguk seraya tersenyum ke arahku, lalu berjalan melewatiku begitu saja.
Kedua alisku spontan terangkat keatas. Hey apa-apaan ini, masa dia berjalan melewatiku begitu saja?
"Sayang, apa kamu melupakan sesuatu?" Aku berbalik badan, memandang Raisa yang berhenti satu langkah dari tempatku berdiri.
"Tidak," ujarnya tanpa menoleh, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Duh, kenapa nggak peka tu bocah. Aku kan pengen di gandeng.
Gegas aku berjalan cepat, berusaha mensejajari langkahnya. Segera ku raih tangan mungilnya, ku genggam erat.
Raisa menoleh ke arahku dan tersenyum.
"Lain kali jangan main geloyor aja. Karena saat ini ada tangan yang pengen di gandeng terus," ucapku tanpa menoleh, pandanganku menatap lurus ke depan.
"Ih, gombal mulu." Raisa mencubit pinggangku menggunakan sebelah tangannya. Membuat aku meringis karena memang sakit rasanya.
"Tangan kecil tapi sakit banget nyubitnya," protesku.
"Masa gitu aja sakit?" ledeknya.
"Nggak percaya? Nih gini nih tadi kamu nyubitnya." Kedua tanganku balas dendam, mencubit pinggang Raisa tanpa ampun. Bukan cubitan beneran, tapi hanya candaan. Aksiku berhasil membuat dia tertawa terbahak-bahak. Dan aku, sangat menyukainya.
"Rey."
Tawa kami seketika terhenti, pandangan kami sama-sama tertuju pada sosok lelaki yang berdiri tak jauh dari tempat kami berdiri. Galang.
Aku kembali menggandeng tangan Raisa, membawa wanitaku berjalan menghampiri Galang.
"Ya Lang? Butuh sesuatu?" tanyaku.
"Ti-dak. Di dalam sumpek, pengen menghirup udara malam," ujarnya.
"Oh. Disini memang tempatnya asik. Apalagi di tepi kolam sana, lebih asik karena pemandangan di depannya adalah sesuatu yang bisa menyegarkan mata."
Galang hanya mengangguk, namun pandangannya sedari tadi tak lepas dari menatap ke arah Raisa. Galang seperti mengagumi wajah istriku, yang ku akui memang cantik dan tidak membosankan saat dilihat.
"Tapi maaf Lang, aku tidak bisa menemani. Aku dan Raisa mau masuk ke dalam, nggak enak kalau pencar sendiri. Masa tamu malah ditinggal-tinggal."
"Oh, ya sudah. Masuk duluan saja. Nanti aku nyusul," ujar Galang, yang lagi-lagi terus melirik ke arah Raisa.
Aku tak s**a dengan caranya memandang istriku, terlalu lancang menurutku. Dan lagi, di dalam sini seperti ada yang terbakar. Ya, aku cemburu.
"Aku duluan," ucapku sembari melangkah pergi menggandeng tangan Raisa.
***
Acara bulan madu untuk sementara aku tunda dulu, hanya sehari semalam menginap di hotel hanya bikin capek saja. Dan pagi ini ku putuskan untuk masuk kantor.
"Harusnya libur beberapa hari lagi Mama rasa tidak masalah Rey," ujar Mama ketika kami bertiga sedang menikmati sarapan.
"Kelamaan Ma. Udah nggak apa-apa, nanti akan Rey agendakan lagi. Jadwal bulan ini padat."
"Ya sudah kalau begitu."
Kembali kami menikmati sarapan, namun tak ada obrolan lagi. Kami sibuk dengan sisa makanan di piring masing-masing.
"Rey berangkat dulu Ma." Setelah menci um punggung tangan Mama aku ditemani Raisa berjalan ke arah garasi.
"Sayang, Mas berangkat dulu ya." Ku ulurkan tanganku ke arah Raisa, dia menyambutnya dengan senyum mengembang.
"Jaga diri baik-baik di rumah," ucapku seraya mengacak kasar kepalanya yang terbalut jilbab.
"Iya Mas. Mas Reyhan juga jaga diri baik-baik disana."
Setelah menghadiahi ci uman di kening Raisa, barulah aku berangkat.
Pelan ku lajukan roda empat ku meninggalkan area rumah, menembus jalanan komplek perumahan yang nampak sepi, hanya terlihat beberapa kendaraan melintas. Namun di sepanjang jalan bibirku terus saja terangkat keatas, membentuk sebuah senyuman yang terlihat manis kala ku lihat dari kaca spion. Gara-gara gadis itu aku jadi seperti ini, sudah macam orang gila senyum-senyum sendiri.
Hingga tak terasa waktu 30 menit berlalu begitu cepat. Tiba-tiba saja mobil sudah terparkir rapi di tempat yang sudah disediakan untuk atasan. Aku baru sadar kalau sedari tadi itu ngelamun di sepanjang jalan, untung saja nggak meleng. Kebiasan memang, kalau lagi seneng s**a ngelamun, terutama pas lagi nyetir. Padahal itu bahaya.
"Pak Rey ada yang mencari." Pak satpam memberi info ketika baru saja kaki ini menginjakkan kaki di lantai bangunan megah milikku.
"Siapa?"
"Namanya Pak Dion. Sekarang beliau ada di ruangannya Pak Reyhan. Maaf, tadi sudah saya minta untuk menunggu disini tapi beliau tidak mau, malah mengancam akan memecat saya," jelas Pak satpam.
Kebiasaan memang Dion. Kalau ada mau pasti tidak bisa ditawar, s**a nyelonong masuk ruang kerjaku tanpa izin.
Dan, kenapa dia ada di Indonesia? Bukannya harusnya ada di Singapore? Dasar bocah, pulang tapi nggak bilang-bilang.
"Ya sudah nggak apa-apa. Terimakasih informasinya." Aku berjalan cepat, masuk ke dalam lift agar bisa sampai di lantai 5 dimana ruang kerjaku berada.
"Pagi Pak." Beberapa karyawan yang bertemu denganku menyapa. Dan seperti biasa aku akan menyambutnya dengan senyuman.
Setibanya di ruanganku, terlihat Dion sedang duduk santai di atas kursi kebanggaan milikku. Melihat kedatanganku lantas dia berdiri lalu berjalan ke arahku.
"Hey Plend. Apa kabar?" tanyanya.
"Kapan kamu datang?"
"Malah tanya balik."
"Aku baik. Kamu kapan datang?" Aku mengulang pertanyaanku.
"Baru kemarin."
"Bukannya kamu sudah menetap di sana?" Aku meletakkan tas kerja di atas meja, lalu duduk di atas kursi kebanggaanku.
"Iya. Aku ada perlu di Indonesia." Dion mendudukkan bobot tubuhnya di atas kursi yang berhadapan denganku, hanya terhalang meja.
"Perlu?"
"Ya. Dan aku butuh bantuanmu." Dion mengeluarkan sesuatu dari dalam saku kemejanya.
Sebuah foto ia sodorkan padaku.
Raisa.
Bersambung
Cerita ini bisa dibaca di KBM app. Link
https://read.kbm.id/book/detail/992b1a15-055d-05ad-fbf0-02edba6a12c5?af=7290d9ff-3009-f610-3750-6c2042400699