20/06/2014
Toll “kepung” Depok
Bagi warga yang tinggal di wilayah Bogor, Depok,
Tangerang, Bekasi (Bodetabek) yang akan ke
Jakarta, kemacetan lalu lintas sudah menjadi
sesuatu yang menjengkelkan. Berangkat pagi
disergap kemacetan. Pulang menjelang tengah
malam pun jalan tetap padat. Jakarta Outer Ring Road II diharapkan jadi solusi. Berita akan dibangunnya jalan tol yang
menghubungkan kawasan Bogor, Depok,
Tangerang, Bekasi, dan Jakarta menjadi berita
menarik. James, warga Villa Inti Persada Pamulang,
Tangerang, misalnya, mengurungkan menjual
rumahnya karena setelah melihat rencana peta Tol
Cinere-Serpong sepanjang 10,14 km, ternyata salah
satu simpang susun akan dibangun di titik Jalan
Cinangka Raya-Jalan RE Martadinata. Dalam benaknya, jika jalan tol rampung dan
beroperasi, aksesnya ke kantor di Jakarta Pusat
akan lebih cepat dan mudah. Selain itu, kehadiran
tol di dekat rumahnya diyakini akan meningkatkan
nilai jual rumahnya dua-tiga kali lipat. Mereka yang bertahun-tahun tinggal di pinggiran
Jakarta dan jalan akses menuju Jakarta selalu
disergap kemacetan pasti sudah lelah dengan
kondisi ini. Kehadiran Jakarta Outer Ring Road (JORR) II atau
Jalan Lingkar Luar Jakarta II memang sudah
ditunggu. Departemen Pekerjaan Umum berencana
membangun proyek JORR II dengan tujuh ruas jalan
tol. Ruas Cinere-Cimanggis-Jagorawi sepanjang 14,7
km, Depok-Antasari (21,7 km), Cinere-Serpong
(10,14 km), Serpong-Tangerang (11,19 km),
Tangerang-Bandara Soekarno-Hatta (55,73 km),
Jagorawi-Cibitung/Tol Jakarta-Cikampek (25,21
km), dan Cikarang-Tanjung Priok (34 km). Tol ini akan menyambung menjadi satu sehingga
memudahkan warga di pinggiran Jakarta untuk
bepergian tanpa melintas dalam kota Jakarta lagi. Dari jadwalnya, proyek JORR II dimulai tahun ini
dengan pembebasan lahan. Pembangunan
konstruksi diharapkan selesai tahun 2009. Jadi, tiga
tahun lagi sejak sekarang, direncanakan jalan
lingkar luar Jakarta ini bakal beroperasi. Gusur ratusan rumah Proyek ini bakal menggusur ratusan rumah di
sejumlah kawasan permukiman. Di Depok
misalnya, sebagian rumah di kawasan elite Raffles
Hills Cibubur pasti tergusur untuk pembangunan
jalan simpang susun ke Tol Jagorawi dan ke
Jakarta. Para pemilik rumah Raffles Hills resah dengan
kabar ini. Ny Rini (30) dan Cherry (32), pramugari
Garuda, warga Blok EE, misalnya, minta
pengembang merelokasi rumahnya. Namun, Wali Kota Depok Nur Mahmudi Isma’il
menegaskan pemilik rumah yang terkena proyek
tol diminta merelakan rumah mereka. Ia
menjanjikan tak ada warga yang dirugikan dalam
pembayaran ganti untung. Ketua RT setempat, Rufus, memperkirakan
sedikitnya 80 rumah di Blok EE bakal tergusur
proyek Tol Cinere-Jagorawi. Bayangkan, jika harga
satu rumah rata-rata Rp 250 juta-Rp 300 juta,
berapa nilai ganti rugi yang harus dikeluarkan
konsorsium investor swasta. Itu baru rumah-rumah di Raffles Hills Cibubur.
Belum lagi rumah di kompleks Harapan Baru
Taman Bunga, Taman Duta, Pelni, lahan kosong di
Pesona Khayangan (utara) dan di kampus
Universitas Indonesia (selatan), serta sebagian
rumah Wismamas Cinere. Jalan Tol Cinere-Jagorawi akan memiliki pintu
masuk-keluar di Cibubur (Raffles Hills), Jalan Raya
Bogor, Jalan Margonda Raya, dan simpang susun
Krukut. Jalan Tol Depok-Antasari menghubungkan
kawasan Bojonggede (Kabupaten Bogor),
Sawangan, Krukut, Gandul (Depok), dan Cilandak
(Jakarta Selatan). Dua jalan tol Depok ini akan
bertemu di daerah Krukut di Kecamatan Limo
(Depok). Jalan Tol Cinere-Jagorawi akan bersambung ke
sebelah barat dengan wilayah Tangerang. Tol
Cinere-Serpong sepanjang 10,14 km akan
menggusur p**a sejumlah rumah di Griya Cinere
dan Wisma Cakra Indah (Depok), Bukit Pamulang
Indah, Serua Permai, Bukit Indah, hingga Bukit Nusa Indah (Tangerang). Tol ini punya dua simpang
susun, Cinangka dan Meruyung. Jalan tol ini bersambung ke barat lagi, Serpong-
Tangerang (11,19 km), melintasi lahan Nusaloka
BSD, Graha Bintaro, Regensi Melati Mas, Alam
Sutera, Pinang, dan Kunciran Mas Permai. Simpang
susun dibangun di Jalan Bhayangkara/Alam
Sutera, Tol BSD-Bintaro, dan Tol Jakarta-Tangerang. Proyek JORR II dilanjutkan dari simpang susun di
Kunciran ke Bandara Soekarno-Hatta Tangerang
(55,73 km). Jika tol ini beroperasi, akses ke
bandara akan makin cepat dan mudah karena tak
perlu lagi masuk ke dalam kota Jakarta. Di sebelah timur, Tol Cinere-Jagorawi akan
bersambung dengan Tol Jagorawi-Cibitung (Tol
Jakarta-Cikampek) sepanjang 25,21 km. Bila tol ini
beroperasi, akses ke pantura Jawa maupun ke
Bandung via Cip**arang pun akan lebih cepat. Di Jakarta, ruas Tol Cikarang-Tanjung Priok (34 km)
lebih banyak untuk kepentingan industri agar
akses ke pelabuhan lebih cepat. Revisi RUTR Untuk mengantisipasi pembangunan tol dan
perkembangan kota, Pemkot Depok melakukan
revisi Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan
Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR) kota. “RRTR dijabarkan lagi ke Rencana Tata Bangunan
dan Lingkungan atau Rencana Teknik Ruang Kota,
kemudian dipaparkan lebih rinci ke siteplan, yang
biasanya diberikan ke pengembang. Ini penting
karena jadi acuan bagi siapa saja yang
membangun usaha,” kata Kepala Dinas Tata Kota dan Bangunan Depok Ir Utuh Karang Topanesa,
Selasa (1/8). Depok yang sebelumnya memiliki enam subpusat
pembangunan kota (Margonda, Cinere, Sawangan,
Citayam, Cimanggis, dan Cisalak), bertambah tiga
lagi, yaitu Tapos, Bojongsari, dan Krukut.
“Bojongsari diproyeksikan jadi pusat
perdagangan dan jasa, kawasan pendidikan dan subterminal, mengantisipasi Tol Depok-Antasari,”
kata Kepala Bidang Tata Kota, Dinas Tata Kota dan
Bangunan Depok, Ir D Irwanto. Krukut mengantisipasi kehadiran Tol Cinere-
Jagorawi. Pertemuan dua tol Depok ada di Krukut
sehingga di masa depan, kawasan ini memiliki
masa depan usaha yang baik. “Sementara Tapos
mengantisipasi pembangunan Terminal Jatijajar,”
ucapnya. Wali Kota Depok Nur Mahmudi Isma’il berharap
proses pembebasan lahan untuk pembangunan
dua jalan tol di wilayahnya berjalan baik. “Jika dua jalan tol beroperasi, pertumbuhan
ekonomi Kota Depok akan berkembang pesat, dan
pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan
asli daerah dan menyejahterakan warga kota,”
kata Nur Mahmudi yang akan memimpin Panitia
Pengadaan Tanah Depok. Nilai properti tinggi Kehadiran jalan tol di mana pun diyakini akan
membawa dampak besar bagi dunia properti. “Jalan tol mendorong nilai properti menjadi tinggi.
Biasanya pengembang yang cerdas akan melihat
peluang emas ini. Informasi yang disampaikan
Kompas soal jalan tol akan dicari banyak pihak,”
kata Ketua Real Estat Indonesia (REI) Kompartemen
Prasarana Kota Ir Dhony Rahajoe. Dalam teori properti, lokasi menjadi acuan utama.
“Yang hitam akan jadi putih, yang putih akan jadi
warna-warni,” kata Dhony. Ia memberi contoh,
ketika Tol TB Simatupang beroperasi, daerah
selatan jadi pilihan. Gedung perkantoran,
apartemen, dan tempat usaha bermunculan. Contoh lain, ketika Jalan Tol BSD-Bintaro-Pondok
Indah menyambung ke Tol TB Simatupang, nilai jual
rumah di BSD dan Bintaro, bahkan rumah di
sekitarnya melonjak dua hingga tiga kali lipat.
“Pertumbuhan ekonomi dan tingkat hunian di BSD
meningkat tajam,” ujarnya. Namun, ia berharap RUTR kota dan kabupaten
dapat menjadi acuan pengembang sehingga tidak
perlu ada penggusuran rumah di kawasan hunian
yang sudah jadi seperti Raffles Hills. Jalan tol boleh saja direncanakan, tetapi yang
harus diingat, pemkot atau pemkab jangan lupa
membangun infrastruktur pendukung. Kalau
masuk atau keluar tol tetap macet, berarti ada
yang salah dalam perencanaan. Kita tunggu realisasi JORR II ini! Jangan sampai jadi
pelesetan jalan ora rampung-rampung jilid kedua!