09/08/2017
Bagaimana Membiasakan Anak Mandiri di Rumah Kecil?
Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Di rumah, saya merekrut asisten rumah tangga, merekrut supir. Tapi saya tidak mau keberadaan mereka justru "melemahkan" anak-anak saya.
Bagaimana bisa keberadaan orang yang membantu kita dapat melemahkan anak? Ya karena beberapa pekerjaan sederhana yang seharusnya menjadi bagian dari tanggung jawab dan kemandirian anak malah diambil alih "karyawan" outsourcing itu.
Di rumah saya, meski ada asisten rumah, anak-anak saya wajib memiliki pekerjaan rumah tangga, sejak usia 7 tahun. Tentu dimulai dari hal-hal sederhana. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga adalah salah 1 bagian saja dari 12 kegiatan mandiri seserhana yang harus dapat dikerjakan sendiri oleh anak sejak usia 7 tahun sebagaimana berikut:
1. mandi
2. sikat gigi
3. makan sendiri
4. istinja (toilet activity)
5. beresin tempat
6. Menyimpan barang yang sudah dipakai pada tempatnya
7. mencuci peralatan makan yg dipakainya sendiri
8. Menutup aurat
9. tidur wajib dipisah
10. sholat sudah dimulai
11. dberikan 1 tugas rumah tangga
12. dikasi otonomi mengelola uang
Mengapa 7 tahun? Karena mereka sudah masuk pada tahapan berpikir operasional - konkrit. Itu sebabnya Rasulullah saja menyuruh orangtua mengajarkan anak usia 7 tahun tapi tidak dibawahnya. Atau kata ali bin abi thalih ini saatnya anak-anak diajarkan jadi "prajurit".
Pekerjaan-pekerjaan sederhana ini membuat mereka akan memiliki habbit tanggung jawab, mandiri dan tidak kalah penting memiliki kemauan untuk "kerja" (etos kerja).
Membuat anak mencuci piring, masak, menyapu, mungkin pekerjaan sulit jika sekadar bisa. Tapi menumbuhkan anak untuk memiliki "kemauan" konsisten melakukannya, inilah pekerjaan tersulit. Ingat, membangun kemauan kerja atau etos kerja bukanlah pekerjaan instan, ini tidak bisa dilakukan hanya dengan beberapa hari pelatihan
Tidak mudah karena, sungguh tidak ada anak yang ikhlas disuruh mengerjakan tugas rumah tangga, sholat dll. Karena itu mustahil kita menuntut KESADARAN anak untum membiasakan ini semua. Capek deh... dan bakal terus capek deh. Seperti perkataan orangtua berikut:
"Abah Ihsan, anak saya sebenarnya sudah saya ajarkan nyetrika, nyapu dan ngepel. Sudah ada pembagian tugas di rumah, tapi masih diingatkan terus blm merasa sadar akan tugasnya. Saya cape ingetin terus."
Sebenarnya itulah pekerjaan orangtua. tugas orangtua mengingatkan. Bagian dari ketegasan adalah mengingatkan. Tiap pagi pun saya mengingatkan anak, membangunkan anak, memberitahu jam
berapa sekarang dll. Itulah pekerjaan orangtua. Jika tidak mau ada kerjaan sebagai orangtua, mari kita kirimkan anak ke panti asuhan. Maaf jika saya terlalu kasar.
Hanya saja cara "mengingatkan" ke anak akan jadi capek jika hanya berupa omongan doang yang banyak: talk less do more. Bagimana "do more" itu? Ya dengan ketegasan. Bagaimana ketegasannya? Saya sudah jelaskan panjang lebar tentang bagaimana mendisiplinkan anak di buku ke-5 saya "7 Kiat Orangtua Shalih Agar Anak Disiplin dan Bahagia" penerbit mizania.
Jika kita berharap anak sadar melakukan itu semua bakal kecewa berat kita. Bakal emosi dan mungkin merusak hubungan kita dengan anak. Ketegasan orangtua akan membuat anak perilakunya proper dan akhirnya terjadi PEMBIASAAN. Ketika jadi pembiasaan lalu akan jadi HABBIT. Ketika sudah jadi habbit maka akan tubuh manusia akan jd OTOMATIS. JAdinpolanya Ketegasan - pembiasaan - habbit - kesadaran.
Jadi menjelaskan atau memberikan pengertian pada anak itu penting tapi tak perlu banyak-banyak. Selebihnya hanya butuh ketegasan.
Orangtua yang tinggal di negeri-negeri barat sana, sudah terbiasa mengajarkan hal-hal sepele ini karena keadaan yang memaksa mereka begitu. Tapi hasilnya mandiri dan tanggung jawab menjadi sebuah kebiasaan: buang sampah, antri, taat aturan dll.
Ketika saya mengisi pelatihan d Zuerich, Swiss, saya menginap di salah satu hotel di kota itu. Kebetulan saya diinfokan salah seorang Indonesia yang bekerja di bagian "house keeping". Kata dia jika yang menginap orang eropa maka sudah terbiasa tuh tamu yang menginap akan membereskan sendiri kamar tidurnya. Itu nginep di hotel lho ya. Saking terbiasanya mereka sejak kecil diajarkan orangtua mereka mengerjakan pekerjaan- pekerjaan sederhana tadi.
Demikan juga hal yang mirip ketika saya berkeliling beberapa kota di Jerman seperti Frankfurt, Berlin, Munchen, Dresden, Duisburg, Gottingen dll untuk mengisi seminar. Atau anda boleh bertanya langsung jika punya teman kerabat yang tinggal di sana, mestinya mereka akan mengatakan bahwa ketika makan di restoran, cafe atau hotel, pastilah sesuatu yang biasa di sana jika pengunjung akan menyimpan peralatan makan minum yang sudah dipakai mereka di tempat khusus untuk peralatan makan minum yang kotor. Bukan petugas restoran yang melakukannya.
Ini bukanlah saya memuji muja orang Barat. Jangan salah faham. Yang negatifnya pun banyak. Saya bercerita ini dalam rangka membahas konteks "memandirikan" anak di rumah. Itu saja. Karena itu bukan berarti kita harus pindah warga negara untuk melakukan itu semua. Kita bisa memulainya sekarang dari rumah kita. Asal kita punya kemauan dan menghimpun KEKUATAN untuk tegas pada anak kita.
Glowaw
Mainan edukasi anak puzzle 3d glow in the dark
Terbuka peluang reseller dan grosiran