11/05/2020
Pelajaran Bisnis dari Covid19
By Dzul Kangen Water
Hotel tak berpenghuni. Travel agen,mati suri. Persewaan bis terhenti. Pemandu wisata, menganggur. Pusat wisata, sepi. Mall tutup gerai. Penjualan pakaian sepi. Showroom tanpa pembeli. Kafe, setengah mati. Inilah pemandangan hari ini.
Mungkinkah akan segera ramai kembali? Mungkin.
Mungkinkah, keadaan begini akan lebih lama lagi? Mungkin.
Mungkinkah sepakbola digelar lagi? Mungkin.
Mungkinkah akan tidak ada penonton lagi? Mungkin.
Mungkinkah mall kembali riuh lagi? Mungkin.Tetapi juga mungkin tidak.
Inilah keadaan transisi, bahwa keadaan jadi tidak pasti. Apa yang semula pasti, sekarang tidak lagi.
Dulu, di tahun 1960-1970-1980an, seorang anak kecil jika ditanya cita cita hanya akan menjawab dua tiga profesi saja. Misalnya, ingin jadi dokter. Ingin jadi pilot. Atau ingin jadi polisi. Beda dengan sekarang pengen jadi yutuber, selebgram, gamers, pengusaha online.
Semasa covid19 merajalela sekarang, orang dipaksa tinggal di rumah. Ketika berada di rumah hanya ada dua kemungkinan, surga atau neraka. Jika kebeneran, jadi surga. Tetapi jika tidak beruntung jadi neraka. Tergantung.
Tetapi yang pasti, di rumah ada berkah. Jika kita perhatikan "gejolak" di media sosial ada banyak sekali kelucuan di rumah. Ada memasak aneka makanan, minuman, handicraf, dan lain lain yang dipamerkan netizen. Ada tampilan tiktok yang lucu, juga menggetirkan. Pokoknya, semua aktivitas di rumah menjadi albumnya sendiri.
Pusat wisata tak kurang akal, menyajikan petualangan virtual. Demikian juga balapan motor, dan lain lain. Makan pun diantar ke rumah dengan segala menu yang dipesan. Sate kambing yang biasa kita makan di warung, bisa tersaji di rumah juga. Semua serba online.
Meskipun dunia digempur Covid19, Jeff Bezos justru melipat kekayaannya. Di luar rumah, udara makin segar karena polusi berkurang, antrean BBM mengerut, sumpah serapah di jalan mengendur, laut menjadi lebih bersih sehingga ikan sebesar paus muncul di beberapa pelabuhan besar dunia.
Kini orang malah takut ke luar rumah, bukan hanya takut terkena virus, tetapi juga takut dibegal. Angka kriminalitas jalanan mendadak meningkat. Maka, belanja pangan pun bisa diantar ke rumah.
Hampir sebulan bekerja di rumah, instansi pemerintah ternyata baik baik saja. Tidak ada keributan, juga semua masih terkendali.
Sekarang muncul pertanyaan. Jika semua bisa dikerjakan dari rumah, lalu untuk apa kantor? Untuk.apa harus naik.motor, mobil, kereta berdesak desakan seperti orang takut matahari. Berangkat pagi pagi, lalu pulang malam malam?
Jika di luar rumah begitu banyak gangguan, kenapa harus ke luar?
Jika bisa dikerjakan dari rumah, kenapa harus ke kantor?
Jika bisa memesan kebutuhan pokok dari rumah, kenapa harus menghabiskan BBM dan bergulat dengan kemacetan?
Jika bisa belajar seperti home schooling, kenapa harus ke sekolah lalu pulang tawuran?
Itulah peristiwa dalam tiga bulan terakhir di lingkungan kita.
Maka, jika kita merujuk pada teori teori disruption, dan shifting, maka telah terjadi perubahan besar besaran sekarang ini. Maka, peta bisnis pun akan banyak berubah.
Saya, Septina dari Kangen Water sudah memaksimalkan penggunaan aplikasi zoom untuk rapat, dan edukasi.
Sebagian besar waktu, saya habiskan di depan komputer. Tetapi, saya tetap mengendalikan bisnis mesin Kangen dari dalam kamar.
Menarik, dalam pergulatan bisnis ini, saya tetap bersama anak anak.
Beberapa jenis produk akan mati. diganti dengan produk yang baru. Bahkan sama sekali baru. Begitu juga profesi.
Beberapa jenis bisnis yang akan moncer di beberapa tahun menndatang misalnya, e-commerce, remote working, online schooling,webinar / online training,netflix, indihome,telemedicine, juga jasa pengantaran.
Sedangkan,bisnis yang kurang menguntungkan antaralain, travel agen, hotel, mall, retail, persewaan kantor, dan beberapa yang lain.
Maka, tampaknya perusahaan yang belum digital harus segera melakukan adaptasi terhadap dunia yang bergeser, dan berubah ini.
Beberapa perusahaan besar sudah melakukan terobosan, seperti membuat marketplace sendiri.
Dan,selama beberapa waktu ini, kita telah dipaksa tanpa sengaja untuk berakrab ria dengan pembelian online.
Hadapi, dan terima kenyataan. Hanya ada dua pilihan, survive, atau tenggelam!
Mari, Anda dan saya beradaptasi dengan perubahan ini.