29/07/2026
*PONG LINO TOE JARI*
_"Ketika Negeri Seolah Kehilangan Arah"_
Petrus Tengko
"Pong Lino Toe Jari." Sebuah ungkapan filosofi masyarakat Manggarai yang secara leksikal berarti: pong (hutan lebat), lino (dunia atau bumi), toe (tidak), jari (jadi). Secara harfiah: "Hutan lebat, bumi tidak jadi."
Namun secara filosofis, ungkapan ini menggambarkan sebuah keadaan ketika segala potensi yang besar tidak mampu melahirkan kehidupan yang baik. Alam tersedia, sumber daya melimpah, manusia memiliki akal dan kekuasaan, tetapi hasil akhirnya justru jauh dari harapan. Segalanya terasa tidak menjadi sebagaimana mestinya.
Ungkapan ini terasa relevan ketika banyak warga memandang kondisi bangsa sedang menghadapi berbagai persoalan yang saling bertumpuk. Korupsi masih menjadi perhatian publik. Penegakan hukum kerap menjadi sorotan, termasuk ketika muncul kasus yang melibatkan aparat penegak hukum sendiri sehingga memunculkan kesan saling menangkap antarpenegak hukum. Di tengah situasi seperti itu, masyarakat berharap seluruh lembaga penegak hukum mampu bekerja secara independen, transparan, dan adil.
Sementara itu, ruang-ruang diskusi di televisi, media elektronik, kanal YouTube, kampus, hingga parlemen dipenuhi perdebatan tentang arah bangsa. Para pakar, akademisi, mahasiswa, aktivis, dan wakil rakyat menyampaikan kritik serta gagasan. Namun di mata sebagian masyarakat, diskusi yang panjang belum selalu diikuti oleh solusi yang benar-benar dirasakan rakyat.
Di sisi lain, rakyat menghadapi tantangan ekonomi sehari-hari. Kelangkaan bahan bakar pernah terjadi di berbagai daerah, harga kebutuhan pokok terus menjadi beban, sementara kebijakan perpajakan dipandang sebagian masyarakat semakin memberatkan. Ketika biaya hidup meningkat, harapan rakyat sederhana: negara hadir memberikan kepastian dan perlindungan.
Mahasiswa berkali-kali turun ke jalan menyampaikan aspirasi. Demonstrasi merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Namun pertanyaan yang terus muncul adalah: apakah suara mereka benar-benar didengar, atau hanya menjadi gema yang menghilang di tengah hiruk-pikuk politik?
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa harapan besar bagi peningkatan kualitas gizi anak-anak Indonesia. Namun menurut berbagai kritik publik, pelaksanaannya masih menghadapi tantangan pemerataan. Banyak sekolah di perkotaan telah menikmati manfaatnya, sementara sejumlah sekolah di daerah terpencil merasa belum memperoleh layanan yang sama. Jika sebuah program nasional bertujuan menghadirkan keadilan sosial, maka pemerataan menjadi ukuran penting keberhasilannya.
Di saat yang sama, masyarakat juga berharap setiap anggaran negara dikelola secara bersih, transparan, dan akuntabel. Bila terjadi penyimpangan oleh oknum dalam pengelolaan suatu program, maka yang harus dipertanggungjawabkan adalah pelaku penyimpangan tersebut sesuai proses hukum, bukan serta-merta tujuan programnya. Pertanyaan yang layak diajukan bukan sekadar "apakah programnya yang salah?", melainkan juga "apakah tata kelola dan integritas pelaksananya sudah berjalan sebagaimana mestinya?"
Harapan-harapan yang pernah disampaikan dalam masa kampanye—mulai dari isu listrik, subsidi energi, pendidikan, hingga penciptaan lapangan kerja—terus menjadi ukuran yang digunakan masyarakat untuk menilai kinerja pemerintah. Ketika banyak lulusan perguruan tinggi masih kesulitan memperoleh pekerjaan, kegelisahan publik pun semakin nyata. Pendidikan tanpa kesempatan kerja yang memadai berisiko melahirkan generasi yang kehilangan optimisme.
Menjelang hampir tiga tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo, masyarakat tentu memiliki penilaian yang beragam. Ada yang melihat capaian, ada p**a yang menyampaikan kritik. Dalam negara demokrasi, kritik bukanlah bentuk kebencian terhadap pemerintah, melainkan wujud kepedulian agar penyelenggaraan negara semakin baik. Kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab merupakan bagian dari upaya memperkuat demokrasi.
"Pong Lino Toe Jari" akhirnya menjadi lebih dari sekadar ungkapan adat. Ia adalah cermin nurani. Sebuah pengingat bahwa negeri yang kaya tidak boleh gagal menjadi tempat hidup.