24/05/2026
SALAH KAPRAH BERABAD-ABAD! Bukan Manusia Jadi-jadian, Ini Arti 'Liak' yang Sebenarnya Menurut Lontar Kuno Bali 👁️📜
Mendengar kata "Leak", sebagian besar orang pasti langsung membayangkan sosok menyeramkan berlidah panjang yang terbang di malam hari mencari tumbal. Ditambah lagi dengan maraknya pertunjukan hiburan dan cerita mistis, doktrin bahwa Leak adalah ilmu hitam perusak pun semakin melekat kuat di pikiran masyarakat.
Namun, benarkah demikian? Ataukah selama ini kita hanya korban dari Tutur Tinular (cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut tanpa tahu sumber aslinya)?
Pembaca dan Penulis Lontar dari Gedong Kirtya Singaraja, Putu Suarsana, membongkar fakta mengejutkan. Berdasarkan naskah-naskah kuno seperti Lontar Aji Pangleakan, Pangiwa, hingga Surya Panengen, ternyata tidak ada satu pun definisi yang menyebutkan Leak sebagai makhluk menyeramkan atau manusia yang bisa berubah wujud!
Berikut pelurusan sejarah yang mencerahkan agar kita tidak lagi salah kaprah:
Arti Kata yang Sebenarnya: Istilah yang tepat sesungguhnya bukan Leak, melainkan Liak, yang merupakan singkatan dari Linggih Aksara (Li = Linggih/Tempat, Ak = Aksara). Jadi, Ilmu Liak sejatinya adalah ilmu spiritual tentang menstanakan aksara suci di dalam diri.
Bagian dari Ilmu Ta**ra: Ilmu Liak adalah warisan leluhur Bali yang sangat tua, bahkan sudah ada sebelum agama-agama formal masuk ke Nusantara. Karena sifat praktiknya yang rahasia (esoterik), masyarakat luar akhirnya mulai menduga-duga dan memunculkan spekulasi mistis.
Tidak Ada Perubahan Fisik: Gosip bahwa penganut Ilmu Liak bisa berubah wujud menjadi Celuluk atau Rangda sama sekali tidak tertulis di dalam lontar. Itu adalah kesalahpahaman yang lahir dari pementasan seni drama tari seperti Calonarang.
Tujuan Asli yang Mulia: Lontar Liak sejatinya diciptakan bukan untuk menyakiti orang lain. Ilmu ini dipelajari demi kepuasan spiritual diri sendiri, mencapai kebahagiaan sempurna, memohon kadirgayusan (umur panjang/keselamatan), serta agar jiwa mendapatkan tempat yang baik saat kembali ke alam baka.
Lantas, kenapa ada cerita pangleakan yang merusak?
Suarsana menjelaskan, Ilmu Liak ini ibarat pisau bermata dua. Semua kembali kepada moral sang pelaku (operator). Kasus Nyi Calon Arang yang menyebarkan wabah penyakit adalah contoh nyata ketika ilmu suci ini disalahgunakan untuk tujuan yang buruk (pangiwa).
Klarifikasi ini menjadi tamparan sekaligus pencerahan bagi kita semua agar tidak mudah menghakimi warisan spiritual leluhur hanya berdasarkan visual film atau cerita mistis belaka. Kebudayaan Bali itu ilmiah dan sarat akan filsafat mendalam! 😇✨
Bagaimana pendapatmu setelah mengetahui arti asli dari "Liak" ini, Semeton? Yuk, diskusikan di kolom komentar! 👇