04/07/2025
Sedot WC Gresik wa.me/6281357371999
Kelaparan, Kepungan, dan Pengkhianatan, Akhir Tragis Surabaya di Tangan Mataram!
Di awal abad ke-17, Pulau Jawa bukanlah satu kerajaan utuh. Ia terpecah menjadi banyak kekuatan kecil yang saling bersaing dan salah satu yang paling ambisius adalah Kesultanan Mataram di pedalaman tengah Jawa, dipimpin oleh seorang raja muda yang tak kenal takut Sultan Agung.
Sementara itu, di pesisir utara Jawa, berdiri kekuatan lain: Kota Surabaya. Ia adalah kota dagang yang kaya, modern, dan penuh pengaruh asing sekutu VOC, tempat berkumpulnya para saudagar, bangsawan, dan para raja kecil yang tak ingin tunduk pada Mataram.
Mataram ingin menyatukan Jawa. Tapi Surabaya tak mau tunduk. Ia bukan sendirian ia punya sekutu: Madura, Tuban, Pasuruan, Lasem, dan lainnya, membentuk benteng aliansi pesisir yang kuat. Maka pecahlah perang besar, bukan hanya tentang kekuasaan, tapi tentang cara hidup:
- Pusat vs Pesisir
- Kerajaan agraris vs Kota dagang maritim
- Islam tradisional vs Islam kosmopolitan
- Jawa lama vs Jawa baru
Perang pun meledak.
Sultan Agung melancarkan serangan besar-besaran ke arah timur. Pertempuran berlangsung bertahun-tahun, mulai dari Ponorogo, Tuban, Lamongan, hingga Surabaya sendiri. Tapi lawan yang dihadapi bukan sembarangan Surabaya memiliki tembok kuat, senjata dari VOC, dan aliansi yang solid.
Namun Sultan Agung tak gentar. Ia mengepung Surabaya selama lima tahun, memutus aliran air Kali Mas, memblokade jalur laut, dan menyerang dari segala penjuru. Penduduk mulai kelaparan. Sekutu-sekutu Surabaya satu per satu jatuh. Pasuruan takluk. Madura tunduk. Akhirnya, tahun 1625, Surabaya menyerah.
Jawa akhirnya berada dalam satu genggaman.
Tapi perang ini menyisakan luka. Kota-kota pesisir hancur. Aliansi dagang tercerai berai. VOC semakin kuat karena celah kekuasaan yang terbuka. Dan Sultan Agung, yang menang dalam perang, memandang ke barat, mempersiapkan langkah berikutnya: menyerang Batavia milik Belanda.
Perang Mataram vs Surabaya bukan hanya perang antar kota. Ini adalah momen besar ketika politik, budaya, ekonomi, dan agama saling bertabrakan di tanah Jawa dan sejarah pun berubah selamanya.