25/12/2014
VERTICAL GARDEN (VEGA)
Oleh: Ir Slamet Budiarto
Vega adalah konsep taman tegak, yaitu tanaman dan elemen taman lainnya yang diatur sedemikian rupa dalam sebuah bidang tegak
Ruang hijau sangat diperlukan untuk keseimbangan kehidupan manusia. Ironisnya, di kota-kota besar, lahan terbuka hijau makin sempit. Perumahan-perumahan di kota besar juga menyisakan lahan terbuka hijau yang sangat terbatas. Terbatasnya lahan yang dapat digunakan untuk menanam tanaman, menjadi kendala serius dan harus dicari jalan agar rumah hunian tetap dapat memiliki taman yang cukup. Ruang hijau tidak hanya dibutuhkan untuk resapan air serta keindahan semata. Tanaman juga memiliki fungsi untuk memperbaiki struktur udara di perkotaan. Tanaman hidup dapat mengurangi dampak polusi udara dan sebagai sumber oksigen bagi kehidupan manusia.
Salah satu cara menanam tanaman dalam jumlah yang cukup, walaupun ruang yang ada sangat terbatas, adalah dengan konsep taman vertikal atau vertical garden (Vega). Vega adalah konsep taman tegak, yaitu tanaman dan elemen taman lainnya yang diatur sedemikian rupa dalam sebuah bidang tegak. Dengan konsep ini, ruang tanam/space bisa jauh lebih besar dibanding dengan taman konvensional, bahkan jumlah tanaman yang dapat ditanam bisa beberapa kali lipat, sehingga dapat menambah ruang hijau secara sangat signifikan. Vega dapat diaplikasikan di berbagai bangunan (out door maupun indoor), pagar, carport, serta dinding-dinding pembatas lainnya, sehingga terlihat lebih indah dan tidak monoton berupa dinding yang keras, tapi lebih terkesan alami, bahkan dapat menyerupai lukisan yang sangat artistik.
Sejarah Vertical Garden
Vertical garden sudah dikenal sejak masa romawi dan mesir kuno. Lukisan-lukisan di beberapa artefak memperlihatkan aneka tanaman hias menghiasi dinding taman maupun istana kerajaan.
Pada abad ke 15, vertical garden mulai banyak dikenal dan menjadi ikon untuk sebuah bangunan di prancis. Sedangkan di era modern ini, Vertical garden dikenal luas di dunia berkat jasa Patrick Blank. Dia adalah ahli botani yang melanglang ke berbagai penjuru dunia untuk mengenal lebih dekat aneka habitat vertical garden di alam, misalnya aneka tebing dari tebing di Amazone (amerika latin), hingga ke tebing-tebing di p**ai Phi phi di Phuket, Thailand bahkan sampai ke pegunungan Gunung Gede Pangrango di Pulau Jawa. Mengenal aneka vegetasi di berbagai air terjun di dunia, bahkan vegetasi-vegetasi yang tumbuh secara vertical di bebatuan di berbagai Negara. Hingga akhirnya menerbitkan sebuah buku tentang Vertical garden, dengan judul “From The Nature to The City”. Konsep vertical garden di alam, dibuat kembali di perkotaan, baik di rumah tempat tinggal, hingga ke gedung-gedung pencakar langit. Tidak saja di areal out door, tetapi vertical garden juga menjadi ornamen hidup dalam desain indoor.
Sejak tahun 1995. Patrick Blank mulai membuat Vega di berbagai kota di beberapa Negara. Salah satu yang banyak dikenal di Asia Tenggara adalah karyanya di Siam Paragon Building, Bangkok Thailand. Beberapa tahun terakhir, Thailand mulai menjadi penggerak utama vertical garden di Asia Tenggara, diikuti oleh Singapura. Sedangkan di Indonesia, belum dikenal luas. Namun demikian, diproyeksikan di tahun-tahun mendatang, Vega akan menjadi salah satu trend yang meluas di dalam negeri ini.
Vertical Garden dan Ruang Terbuka Hijau di Perkotaan
Ruang terbuka hijau sangat diperlukan dalam kehidupan manusia.
Sebatang pohon setinggi 10 meter akan menguapkan air sekitar 400 liter/hari. Hutan kota dapat menurunkan suhu di sekitarnya sebesar 3,46% di siang hari.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology and Community Health menunjukkan orang-orang yang tinggal dalam radius satu kilometer dari taman atau area ruang terbuka hijau lainnya lebih jarang mengalami depresi dan kecemasan.
Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan, dituliskan bahwa ruang terbuka hijau perkotaan adalah bagian dari ruang terbuka suatu kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan estetika. Selanjutnya disebutkan p**a bahwa dalam ruang terbuka hijau pemanfaatannya lebih bersifat pengisian hijau tanaman atau tumbuh-tumbuhan secara alamiah ataupun budidaya tanaman.
Ruang terbuka hijau di DKI Jakarta makin lama makin menyusut. Bahkan RTH yang pada tahun 1965 mencapai 24% Dan pemerintah saat itu mentargetkan pada tahun 1985 mencapai 28 hingga 30%, ternyata malah sebaliknya, saat ini tidak mencapai 20%.
Elemen vegetasi atau tanaman merupakan unsur yang dominan dalam RTH. Vegetasi dapat ditata sedemikian rupa sehingga mampu berfungsi sebagai pembentuk ruang, pengendalian suhu udara, memperbaiki kondisi tanah dan sebagainya. Vegetasi dapat menghadirkan estetika tertentu yang terkesan alamiah dari garis, bentuk, warna, dan tekstur yang ada dari tajuk, daun, batang, cabang, kulit batang, akar, bunga, buah maupun aroma yang ditimbukan dari daun, bunga maupun buahnya. Untuk memaksimalkan fungsi RTH, hendaknya dipilih tanaman berdasarkan beberapa pertimbangan dengan tujuan agar tanaman dapat tumbuh baik dan dapat menanggulangi masalah lingkungan yang muncul. Aspek hortikultural sangat penting dipertimbangkan dalam pemilihan jenis tanaman untuk RTH. Selain itu guna menunjang estetika urban design, pemilihan jenis vegetasi untuk RTH juga harus mempertimbangkan aspek arsitektural dan artistik visual
Kehadiran pohon dalam lingkungan kehidupan manusia, khususnya diperkotaan, memberikan nuansa kelembutan tersendiri. Perkembangan kota yang lazimnya diwarnai dengan aneka rona kekerasan, dalam arti harfiah ataupun kiasan, sedikit banyak dapat dilunakkan dengan elemen alamiah seperti air (baik yang diam-tenang maupun yang bergerak-mengalir) dan aneka tanaman (mulai dari rumput, semak sampai pohon).
Vertical garden adalah solusi tepat untuk mengatasi kelangkaan ruang terbuka hijau. Vega dapat menggantikan kehadiran pohon untuk kehidupan manusia.