15/12/2018
MENGENAL SUKU TENGGER PENGHUNI GUNUNG BROMO
Bagi orang Indonesia, Gunung Bromo merupakan sebuah tempat wisata yang ikonik. Gunung aktif dengan tinggi 2.392 meter, dikelilingi oleh hamparan pasir, serta pemandangan matahari terbit yang spektakular membuat Gunung Bromo memiliki daya tarik tersendiri bagi sejumlah wisatawan lokal maupun mancanegara. Jadi tidak salah apabila Gunung Bromo menjadi destinasi wisata unggulan yang dimiliki oleh Indonesia.
Namun tidak lengkap rasanya bicara tentang Gunung Bromo tanpa mengenal penduduk asli yang hidup di sekitarnya, yaitu Suku Tengger. Berbeda dengan penduduk Jawa pada umumnya, Suku Tengger memiliki kepercayaan, bahasa, serta kebudayaan yang unik dan berbeda. Tradisi yang berkembang di kalangan Suku Tengger berkaitan erat dengan Gunung Bromo. Bisa dikatakan, antara Gunung Bromo dengan Suku Tengger memiliki ikatan mistis yang saling menghidupi satu sama lain.
Asal-usul Suku Tengger
Terdapat beberapa pandangan yang menjelaskan tentang asal-usul nama Tengger. Pendapat pertama mengatakan bahwa istilah Tengger berarti pegunungan yang notabene menjadi tempat tinggal mereka. Pandangan berikutnya menyatakan bahwa istilah Tengger berasal dari kalimat Tenggering Budi Luhur yang berarti budi pekerti yang luhur, menggambarkan watak Suku Tengger yang seharusnya. Hingga pandangan terakhir mengatakan bahwa nama Tengger merupakan kata gabungan dari nama Roro Anteng dan Joko Seger, nama leluhur Suku Tengger.
Sejarawan mengatakan bahwa orang-orang Suku Tengger merupakan keturunan dari para pengungsi Kerajaan Majapahit. Pada abad ke-16, Kerajaan Majapahit yang mulai melemah mengalami serangan dari kerajaan Islam yang dipimpin oleh Raden Patah. Menyelamatkan diri dari invasi, sebagian orang-orang Majapahit pergi menuju Pulau Bali. Sebagian dari mereka menempati ujung timur pulau Jawa (Banyuwangi) yang keturunannya sekarang disebut sebagai Orang Osing. Lalu sebagian lainnya lagi memilih mendiami kawasan Gunung Bromo, mengisolasi diri dari pengaruh luar, dan kini dinamakan sebagai Suku Tengger.
Di kalangan Suku Tengger sendiri, berkembang sebuah legenda yang menceritakan tentang sejarah leluhur mereka. Tersebutlah Roro Anteng, putri pembesar Kerajaan Majapahit, dan Joko Seger yang merupakan putra dari seorang brahmana. Roro Anteng dan Joko Seger kemudian menikah dan mereka turut menjadi pengungsi di Pegunungan Tengger. Di sanalah kemudian mereka menjadi pemimpin dengan gelar Purbawisesa Mangkurat Ing Tengger. Keturunan dari Roro Anteng dan Joko Seger inilah yang kelak menjadi Suku Tengger.
Kondisi Sosial Suku Tengger yang Unik
Semenjak kedatangannya ke wilayah Bromo, kondisi leluhur Orang Tengger yang tak tersentuh oleh peradaban luar selama bertahun-tahun kemudian berdampak pada kondisi sosial mereka yang berbeda dengan masyarakat sekitarnya.
Berbeda dengan peradaban Jawa lainnya yang telah didominasi oleh ajaran Islam, Suku Tengger masih mempertahankan kepercayaan para leluhurnya.
Awalnya, agama yang dianut oleh Suku Tengger adalah hasil perpaduan Hindu Syiwa dengan Hindu Parsi. Pada abad ke-16 para pemuja Brahma di Tengger kedatangan pelarian dari orang Hindu Parsi. Ketika orang-orang Hindu Parsi datang, penduduk Tengger yang sebelumnya beragama Brahma beralih ke agama Hindu Parsi. Namun meskipun telah menganut agama Hindu Parsi, mereka masih menjalankan beberapa ajaran Budha.
Selain memadukan antara Hindu Parsi dan ajaran Budha, orang Tengger juga ada yang masih menjalankan praktek animisme. Ini bisa dilihat pada upacara selamatan mereka, seperti upacara selamatan desa, selamatan bumi, dan lainnya.
Sekarang penduduk Suku Tengger mayoritas beragama Hindu, dan sebagiannya beragama Islam dan yang lainnya.
Soal bahasa pun demikian. Suku Tengger memiliki dialek yang berbeda dengan Bahasa Jawa pada umumnya. Mereka masih menggunakan dialek Bahasa Kawi (Jawa Kuno) yang mana terdapat beberapa kosakata yang sudah tidak lagi digunakan oleh penutur Bahasa Jawa sekarang ini. Hal inilah yang menyebabkan orang-orang Jawa mengalami kesulitan memahami Bahasa Tengger.
Tidak hanya itu, Suku Tengger juga memiliki sistem penanggalan tersendiri. Mereka menggunakan sistem penanggalan Tahun Saka yang mengadopsi sistem penanggalan Hindu. Karena itulah, sistem penanggalan Suku Tengger mirip dengan penanggalan tradisional Jawa maupun Bali. Dalam satu tahun terdapat dua belas bulan, yaitu Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawolu, Kasanga, Kasadasa, Dhesta, dan Kasadha. Dalam satu bulan terdapat tiga puluh hari. Sistem penanggalan inilah yang digunakan untuk menentukan hari-hari besar Suku Tengger.
Selain kondisi sosialnya yang unik, Suku Tengger juga dikenal kaya akan tradisi dan serangkaian upacara-upacara adat yang didasarkan pada penanggalan mereka. Dua di antaranya adalah:
1. Hari Raya Karo
Bagi Suku Tengger, Karo adalah hari raya terbesar yang paling dinanti-nanti. Kata Karo berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti kedua. Hari Raya Karo dilaksanakan pada bulan kedua menurut penanggalan masyarakat Tengger.
Acara di hari raya ini meliputi pawai hasil bumi dan kesenian adat berupa pertunjukan Tari Sodoran, yaitu sebuah tarian yang bertujuan mengingatkan manusia untuk senantiasa mengingat Sang Pencipta, agar hidup selalu berjalan lurus layaknya sodor yang diarahkan ke depan. Setelah itu acara dilanjutkan dengan saling mengunjungi tetangga dan sanak saudara.
Ritual di Hari Raya Karo ini dipimpin oleh seorang Ratu. Ratu di sini mempunyai arti seorang pemuka agama yang selalu memimpin doa. Walau disebut Ratu, ia bukanlah seorang perempuan, melainkan seorang laki-laki. Masyarakat Tengger juga menyebut Ratu dengan sebutan Dukun.
2. Upacara Yadnya Kasada
Bagi Suku Tengger, Gunung Bromo dipercaya sebagai gunung suci. Dalam rangka mengagungkan dan menjaga kesuciannya, tiap setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan Yadnya Kasada atau upacara Kasodo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari pada bulan purnama di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Suku Tengger.
Dalam upacara tersebut, masyarakat Suku Tengger membawa persembahan berupa hasil bumi seperti padi, sayuran, dan buah-buahan di sebuah pura di kaki Gunung Bromo. Lalu persembahan tersebut dibawa ke puncak gunung melintasi 'segara wedhi' (lautan pasir) hingga sampai ke kawah Gunung Bromo. Upacara diadakan sebagai wujud rasa syukur sekaligus memohon berkah dan keselamatan pada Yang Maha Kuasa.
Selain itu, Yadnya Kasada juga menjadi peringatan atas pengorbanan Raden Kusuma, putra bungsu Roro Anteng dan Joko Seger. Menurut legenda setempat, Roro Anteng dan Joko Seger pernah bertapa di Gunung Bromo memohon keturunan kepada Dewa. Mereka berjanji akan mengorbankan anak bungsunya ke Gunung Bromo jika dikaruniai keturunan. Doa mereka akhirnya terkabul dan mereka memiliki 25 anak. Namun Raden Kusuma sebagai putra bungsu tak kunjung dikorbankan yang membuat Gunung Bromo murka. Hingga akhirnya kerelaan Raden Kusuma mengorbankan diri mampu meredakan amarah Gunung Bromo.
Kini, Yadnya Kasada adalah upacara adat Suku Tengger yang menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan. Momen tersebut berkontribusi pada banyaknya wisatawan Gunung Bromo yang datang untuk menikmati pemandangannya yang memukau sekaligus merasakan suasana sakral yang dihidupkan oleh tradisi unik orang-orang Suku Tengger.